Senin, 26 Agustus 2013

Kelompok Tani JOS Belajar Tanam Sayur Organik

Pak Rahmat, Pembimbing  sedang dialog dengan anggota kelompok

Perkelompok berdiskusi

Ibu Sekretaris keelompok

Kelompok lain asik berdiskusi
Kelompok tani JOS, untuk belajar budi daya sayur ala organik terbentuk di halaman Radio Max FM, Minggu kemarin.

Pesertanya 20 orang, latar belakangnya beragam, ada yang masih sekolah SMA, baru lulus SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan beberapa orang bapak.
Di kelompok ini juga ada anggota  yang sudah dan sedang tanam sayur, serta ada yang sama sekali baru mau belajar.

Proses pembentukan kelompoknya dilakukan sendiri oleh anggota kelompok tanpa intervensi dari siapapun.

Terbentuknya kelompok ini prosesnya dimulai dari pengumuman di Radio Max FM Waingapu selama 2 minggu sejak awal Agustus ini. Dalam pengumuman itu intinya menyampaikan akan dibukanya kelompok baru untuk belajar tanam sayur.

Yang ingin belajar bisa mendaftar dengan cara mengirimkan sms ke 082340743238, formatnya jos#daftar#nama#alamat#umur. Kemudian lewat sms pula, diberitahu pada yang mendaftar waktu pertemuan pertama.

Dalam pertemuan ini, anggota kelompok secara aktif berdiskusi di pandu Pak Rahmat yang nantinya akan membimbing peserta belajar.

Dari kesepakatan kelompok, disetujui pertemuan sekali dalam dua minggu, hari lainnya angggota kelompok akan mempraktekkan di kebun sendiri cara budi daya sayur yang baik yan gtelah didapat dalam tiap pertemuan, dimulai dari mengolah lahan dan seterusnya.

Pertemuan selanjutnya pada Sabtu depan, dengan tugas tiap anggota kelompok membawa daun pisang dan lidi secukupnya untuk bahan belajar pembuatan polibag daun pisang, persiapan persemaian bersamaan dengan persiapan mengolah lahan.

Lokasi pelatihan di Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, dekat dengan Radio Max FM Waingapu.

Terima kasih untuk banyak pihak yang mendukung kegiatan ini,  khususnya  untuk dokter Rani Manu Mesa yang mendorong agar kegiatan ini bisa segera dilakukan.

Minggu, 11 Agustus 2013

Kabar Sumur

Sumur di Lapadang - Wairinding - Sumba Timur
Tim Penggali sedang menarik material dari sumur di Lapadang
Materila dari dasar sumur sudah terlihat basah di Sumur Lapadang
Mencari titik air di Data, KM 18 dari Waingapu masuk kanan, Lokasi dekat Gereja di Data
Penggali Sumur Mbatapuhu - Matius ( rumahnya tempat sumur di Wunga Timur ), baru keluar dari Sumur

Salam kawan, Puji Tuhan atas kemurahanNya menyediakan air di sumur yang kami gali.

Terimakasih untuk dukungan doanya bagi pekerjaan penggalian sumur ini.

Kabar dari Lapadang

Sumur yang tim kami gali di Lapadang, Wairinding sudah dapat air. Rencana penggalian terus dilakaukan sampai Rabu depan. Kamis akan mulai dikerjakan mulut sumur. Kalau cepat Sabtu minggu depan sudah tuntas pengerjaan sumur di Lapadang.

Kabar dari Kokar Karimbang

Sumur yang digali di Kokarkarimbang Wairinding juga sudah dapat air. Setelah pengerjaan sumur di Lapadang selesai, tim penggali akan kami pindahkan ke Kokarkarimbang- depan SD Wainggai Warinding. Target kami, dalam bulan Agustus pekerjaan sumur di Kokarkarimbang sudah selesai.

Kabar dari Mbatapuhu

Sumur di Mbatapuhu, di belakang Pustu Mbatapuhu, saat kami kunjungi Jumat kemarin, tanda-tanda air sudah ada. Material galian bila di remas terasa berair. Berharap kabar baik bisa kita dapat dalam seminggu ke depan dari Mbatapuhu.

Puji Tuhan untuk kebaikan dan kemurahanNya. Dia menyediakan sumber air di sumur yang kami gali.

Sedikit kesaksian, dalam sepanjang penggaliaan sumur baik di Haharu maupun di Wairinding Tuhan Pengasih memelihara semua pekerja, sehingga semua tetap sehat bisa terus bekerja.

Sekali lagi kami terus meminta dukungan doanya, agar semua pekerjaan sumur bisa selesai dengan baik.

Soli Deo Gloria

Jumat, 09 Agustus 2013

Terbakar

Padan terbakar di jalan menuju Mbatapuhu - kec. Haharu sumba Timur



Dari kejauhan terlihat punggung bukit di Wunga - Kec. Haharu Sumba timur
                                         Dalam sekejab api menbakar apa yang di laluinya,  dari Kapunduk sebelah kanan jalan                                                 Mbatapuhu - Kec. Haharu Sumba Timur

Hitam - Terbakar
Membakar padang masih jadi kebiasaan.

Entah kata kebiasaan pas di situasi ini, tetapi yang namanya bakar padang tetap saja setiap tahun.Entah  kita yang bakar atau rumpukt kering  terbakar sendiri di padang?

Kebakaran padang rumput tahun ini terbilang lambat, sekitar akhir juli baru terlihat, ini  mungkin saja karena hujan masih turun di Sumba sampai akhir Juni.

Biasanya awal Mei sudah terlihat asap membumbung ke langit di area KM8 dan sekitarnya dari arah Waingapu, tahun lalu saat pulang dari Wunga agak malam, terlihat padang di arah Laidenha dan sekitarnya merah menyala karena terbakar, sepertinya belum ada solusi untuk ini.

Yang saya dengar ada banyak alasan untuk membakar padang dari obrolan dengan beberapa kawan, yang utama agar segera tersedia rumput hijau untuk ternak di sekitar tempat lokasi terbakar.




Selasa, 06 Agustus 2013

RNW di Kebun Waikudu

Radio Transistor 12 Band Pemberian RNW - Indonesia di Rumah Kebun Bapak Diki Talu Ndiawa - Waikudu Sumba Timur

Radio Transistor 12 Band RNW di Rumah Kebun Bapak Diki Talu Ndiawa - Waikudu Sumba Timur

Radio Nederland Wereld Omroep RNW Siaran Indonesia  ( Ranesi ) yang disiarkan dari Hilversum Belanda sudah tidak bersiaran lagi sejak setahun lalu.

Rasanya sedih juga saat saat Ranesi akan tutup siaran.

Secara pribadi saya punya kenangan tersendiri dengan Ranesi. 2008 lalu saya pernah magang hampir sebulan di Hilversum, diudang Pak Alfons Lasedu, salah satu penyiar senior Ranesi. Rasanya baru kemarin kejadian itu.

Sabtu lalu saat berkunjung ke kebun Bapak Diki Talu Ndiawa di Waikudu, saya mendengar siaran radio Max FM di sana. Suara manis Erni siang itu dengan lagu tempoe doeloenya terdengar di kesunyian Waikudu. Suara Erni kami dengar dari radio transistor 9 band pemberian Ranesi.

Saat Ranesi akan ditutup, saya sempat meminta radio transisitor untuk satu acara di Max Fm kepada Pak Han Harlan, Manager Ranesi di Indonesia.

Kami membagi radio transistor dari Ranesi ke pendengar lewat kuis, yang beruntung menjawab beberapa pertanyaan mendapat bingkisan radio. Bapak Diki Talu Ndiawa salah satu pendengar yang beruntung mendapat hadiah radio transistor.

Saat mendengar saiaran Max FM di rumah kebun Bapak Diki Talu Ndiawa, saya langsung meminta untuk melihat kamar tidur mereka di mana radio transistor ini di letakkan.

Terlihat jelas tulisan didepannya RNW.

Dari kamar tidur Bapak Diki Talu Ndiawa  di rumah kebun Waikudu yang ada di tengah tebing tinggi dan sungai Waikudu yang deras arusnya, memori saya langsung berlari kencang menuju ke Hilversum Belanda, didalam studio siaran RNW, saya pernah beberapa kali duduk di situ dan di wawancara pengalaman di Belanda, di tempat peƱata suara berada, di Hilversum.

Nama kawan di sana langsung teringat lagi : Alfons Lasedu, Bari Muchtar, Jean Van de Kok, Fedia Andina, Nina Nanlohi, Mbak Endang yang menyiapkan card plastik terisi eoru untuk biaya makan saya di kantin Ranesi,  Yanti Mualim, Julian Wahyana, Eka Tanjung, Junito Drias, Rina Sitorus, …dan masih banyak lainnya…..berharap semua dalam keadaan baik.

Eka Tanjung dan Rina Sitorus di Studio RNW - Hilversum

Heinrich Dengi di Studio RNW -

Diantar  Pak Alfons Lasedu di Schiphol saat akan kembali ke Indonesia

Sabtu, 03 Agustus 2013

5 x Sebrangi Sungai Untuk Berbagi

Nyebrang Sungai Bagian I - Waikudu


Tebing tinggi mencolok mengelilingi Waikudu

Robi dan Kang Bayan dekat jembatan baru di Waikud
Keluarga Bapak Diki Talu Diawa di Kampung Waikudu - Suguhkan jagung muda rebus

Nyebrangi Sungai Bagian II

Tebing Batu Waikudu - Pesona Alam Nan Indah
Nyebrang sungai Bagian III
Lima kali menyeberang sungai baru bisa sampai ke kebun Bapak Diki Talu Diawa di Kampung  Waikudu.
Mengherankan sekali nama kampung ini Waikudu ( Air kecil ), padahal di sini airnyanya sangat banyak ( melimpah ), sungai dengan air yang melimpah dengan arus yang keras mestinya di sebut Waibakul.
Ini merupakan kunjungan balasan Saya dan kang Bayan ke tempat Bapak Diki Talu Diawa setelah beberapa hari sebelumnya beliau berkunjung ke Radio Max FM, tetapi jangan samakan kunjungan ini seperti berbalan kunjungan antar kepala Negara!!!!!
Untuk sampai lokasai tanam sayur Bapak Diki Talu Diawa di Waikudu bukan perkara mudah bagi Saya dan Kang Bayan, karena harus melewati sungai beberapa kali yang dalamnya kami tidak kami perkirakan sebelumnya, akibatnya celana basah sepanjang perjalanan, belum lagi badan harus menahan tarikan air sungai yang cukup keras.
Dari Kampung Waikudu, kami harus berjalan sekitar 30 menit untuk sampai di kebun.
Siang yang panas seakan tidak kami hiraukan, karena  ingin segera melihat kebun sayur warga di sana yang ada di sepanjang aliran sungai Waikudu dan kami dihibur oleh indahnya alam sepanjang perjalanan. Tebing batu yang  tinggi ada di mana-mana dan kami ada di dasarnya. Pemandangan nan indah yang tidak ditemui di sekitar Waingapu.

Sampai di kebun sayur warga kamiberdua agak kecewa danmerasa kashihan dengan warga di sana. Bagaimana tidak, jarak yang begitu jauh dari Kampung Waikudu ke kebun ditempuh setiap hari, tapi cara mengolah lahan, cara menanam, jenis tanaman begitu minim, padahal sumber air melimpah ( yang ditempat lain orang mengeluh ) tanahnya bagus.

Bapak Diki Talu Diawa pak RT di sana mengaku bahwa Sumber Daya Manusia mereka terbatas sekali, dan mereka membutuhkan bantuan. Sselama ini kata Bapak Diki Talu Diawa mereka berusaha seperti itu, karena memang yang mereka tahu hanya begitu.

Keinginan kuat untuk berubah dan berhasil baik dalam hal tanam sayur yang membuatnya nekat datang ke Radio Max FM dan Kelojmpok Kawara Pandulang di Kalu. Dirinya tahu kelompok Kawara pandulang berhasil dalam menanam sayur dari radio Max FM. Radio Max FM bisa didengar di Kampung Waikudu, juga di rumah kebun Bapak Diki Talu Diawa. Dari informasi2 di radio dirinya tahu ada kemajuan dan keberhasilan di Waingapu dalam menanam sayur.

Sangking gemasnya dengan kebun yang diurus seadanya ( meskipun kata mereka ini sudah usaha maksimal )  dengan sumber air melimpah, kang Bayang langsung turun tangan memberikan contoh mengolah lahan, cara membuat bedeng dan bagaimana rumput bisa dimanfaatkan jadi pupuk dan bukannya  dengan cara instan mematikan rumput dengan menyemprot gunakan bahan kimia.

Tidak banyak yang bisa kami bagi karena waktu mendesak. Berharap dikesempatan lain kami bisa berkunjung lagi dan berbagi lebih banyak tentang budidaya sayur di kampung Waikudu.

Dalam perjalan pulang Saya berdiskusidengan Kang Bayan bagaimana kemungkinan menaikkan air yang melimpah dari sungai yang beair sepanjang tahun untuk warga disana.

Pilihan yang mungkin bisa dilakukan dengan biaya yang kecil adalah membuat hidram, mengalirkan ke tempat yang tinggi kemudian  di bagi ke kebun warga atau menggunakan kincir air sederhana dengan modifikasi untuk manaikkan air.

Tapi apakah ini mungkin????........... Entahlah…..
Waikudu, awal Agustus 2013



Salah satu kebun sayur di Waikudu

Bawang di kebun warga di Waikudu

Nebrang Sungai bagian IV

Nebrang Sungan bagian V

Kang Bayan angkat cangkul, beri contoh cara pengolah tanah di kebun Bapak Diki Talu Ndiawa - Waiakudu


Kamis, 01 Agustus 2013

Bertemu Penyiar Pujaan

Bapak Diki Talu Diawa Dari Waikudu di Kebun KWT Kawara Pandulang, Kalu

Kan Bayan dan Bapak Diki Talu Diawa

Bapak Diki Talu Diawa Dapat 1 Bungkus Bibit Pak Coy dari Kang Bayan

Pupuk Organik Cair - Bio Slurry

Tidak disangka, siang itu dikunjungi Bapak Diki Talu Diawa dari Waikudu.

Waikudu berjarak sekitar 20 km dari Waingapu, arahnya dari Wingapu ke Lambanapu terus ke Maulumbi, Bidipraing lalu  menyebrang sungai.  Sekarang  pemerintah sedang mebuat  jembatan untuk menyeberangi sungai di Waikudu dan pembukan jalan dari Waikudu, Maidang ke Tabundung. Akhir tahun ini jembatan di Waikudu sudah bisa digunakan.

Bapak Diki Talu Diawa  adalah pendengar setia Radio Max FM Waingapu. Kata dia, setiap hari mendengar radio Max Fm kalau dirumah dan saat di kebun. Cuma selama jarang bergabung  sms dan telpon karena tidak ada jaringan telpon disana. Bapa Diki Talu Diawa menyebutkan beberapa acara , yang  sering didengarnya dan dari ceritanya, terlihat kalu dia  mengetahui dengan detil informasi dari Max FM, seperti kelompok tani yang sering diceritakan di Max FM, topik2 di Bengkel Bahasa dan nama pembawa acara di radio Max FM.

Ketemu dengan Kang Bayan juga menjadi keingin Bapa Diki Talu Diawa ketika ke Max FM. Saya tidak pernah lepas untuk mendengar Ayo Bertani Organik setiap Minggu sore jam mulai jam 18.00 wita kata dia. Acara ini sangat menolong  bagi dirinya dan petani kecil lainnya di desa yang sangat jarang mendapat  informasi  selain dari radio Max FM terutama bercocok tanam sayur den memanfaatkan kotoran ternak untuk pupuk.

Waktu bertemu Kang Bayang telihat jelas kegembiraan dari wajah tuanya. Karena ini untuk pertama kalinya bertemu peyiar pujaan. Kang Bayan sempat berbagi tips budi daya sayur serta berbaik hati member 1 bungkus bibit sayur Pak Coy.

Bibit sayur ini akan saya tanam di Waikudu dan nanti kalau sudah panen akan  aya jual ke Waingapu, begitu kata Bapak Diki Talu Diawa.

Dirinya juga bercerita kalau selama ini sudah memakai pupuk ccair organic bio slurry. Pupuk ini dia dapat dari anaknya yang sedang sekolah di salah satu SMA di Waingapu, kalau anak saya pulang libur dia selalu membawa Bio Slurry ke rumah. Kami sudah menggunakan pupuk ini ke sayur dan tomat, hasilnya sangat memuaskan kata Bapak Diki Talu Diawa. Tetangga saya di Waikudu heran karena sayur yang kami tanam dan menggunakan pupuk cair Bio Slurry pertumbuhannya sangat bagus dan lain dari yang ditanam tetangga.

Waktu akan pulang ke Waikudu tidak lupa Bapak Diki Talu Diawa membeli 5 liter pupuk cair Bio Slurry kemasan jerigen 5 liter sebagai bekal untuk musim tanam ini.

Rabu, 31 Juli 2013

Hope For Sumba

Aprianus Meta Djangga Uma dan Grace Monica

Grace Monica

Aprianus Meta Djangga Uma

Interaktif  bersama Tim dari Metamorfosa Event Organizer
Untuk Music Festival 2013 : Hope For Sumba
Menggelar :
Festival Band
Workshop Music
Konser Rayen Pono
Festival Band, 18-19 September 2013
Workshop Music ,19 September 2013
Konser Rayen Pono, 20 September 2013