Sore itu Pak Graham dan Istri berkunjung ke Radio Max FM.
Saya pertama kali bertemu Pak Graham di Lapangan Rihi Eti Prailiu, saat final pacuan kuda yang lalu, saya mengambil gambar,Pak Graham juga.
Saya kira Pak Graham adalah wisatawan yang berkunjung untuk jalan-jalan ke Sumba, ternyata perkiraan saya salah, karena Pak Graham sudah beberapa bulan tinggal di Waingapu dan bekerja sebagai Voluntir di salah satu LMS.
Pak Graham dan Ibu, ingin melihat biogas di radio Max FM, jadi sore itu saya bercerita banyak tentang biogas yang sudah hampir 2 tahun kami pakai. Pak Graham dan Ibu melihat dari dekat lokasi biogas dan menanyakan banyak hal tentang biogas serta pemanfaatannya. Tidak lupa mereka melihat limbah biogas. Kebetulan sore itu di pembuangan akhir limbah biogas masih terdapat cairan yang kecoklatan dan bila dipakai sebagai pupuk dan makanan lele sangat baik.
Dari lokasi biogas saya mengatar Pak dan Ibu Graham ke kebun bibit Kelompok Wanita Tani Kawara Pandulang di Kalu. Di kebun bibit ini masih ada sisa bibit kol, selederi, lombok, terong lokal, paria, bawang merah , letus dan papaya jenis kalifornia. Bibit yang lain sudah dibawa pulang anggota kelompok untuk ditanam di lahan masing-masing.
Di lahan KWT Kawara Pandulang masih ada sayur pak coy, kol dan sekarang mereka sedang menanam tomat lebih dari 1.000 pohon, pitsai, terong dan jenis lainnya.
Menurut pak Graham saat ini dirinya sedang melakukan penelitian kecil tentang tanah di Sumba Timur, saat di kebun Pak Graham sempat menyebutkan jenis tanah yang berbeda yang ada di Kalu, Radamata, Lambanapu dan beberapa twmpat lainnya. Ibu Graham saat ini juga sedang menanam lombok,bengkoang dan beberapa sayur lainnya di lahan kecil mereka di kos sekitar tandairotu.
Saya pertama kali bertemu Pak Graham di Lapangan Rihi Eti Prailiu, saat final pacuan kuda yang lalu, saya mengambil gambar,Pak Graham juga.
Saya kira Pak Graham adalah wisatawan yang berkunjung untuk jalan-jalan ke Sumba, ternyata perkiraan saya salah, karena Pak Graham sudah beberapa bulan tinggal di Waingapu dan bekerja sebagai Voluntir di salah satu LMS.
Pak Graham dan Ibu, ingin melihat biogas di radio Max FM, jadi sore itu saya bercerita banyak tentang biogas yang sudah hampir 2 tahun kami pakai. Pak Graham dan Ibu melihat dari dekat lokasi biogas dan menanyakan banyak hal tentang biogas serta pemanfaatannya. Tidak lupa mereka melihat limbah biogas. Kebetulan sore itu di pembuangan akhir limbah biogas masih terdapat cairan yang kecoklatan dan bila dipakai sebagai pupuk dan makanan lele sangat baik.
Dari lokasi biogas saya mengatar Pak dan Ibu Graham ke kebun bibit Kelompok Wanita Tani Kawara Pandulang di Kalu. Di kebun bibit ini masih ada sisa bibit kol, selederi, lombok, terong lokal, paria, bawang merah , letus dan papaya jenis kalifornia. Bibit yang lain sudah dibawa pulang anggota kelompok untuk ditanam di lahan masing-masing.
Di lahan KWT Kawara Pandulang masih ada sayur pak coy, kol dan sekarang mereka sedang menanam tomat lebih dari 1.000 pohon, pitsai, terong dan jenis lainnya.
Menurut pak Graham saat ini dirinya sedang melakukan penelitian kecil tentang tanah di Sumba Timur, saat di kebun Pak Graham sempat menyebutkan jenis tanah yang berbeda yang ada di Kalu, Radamata, Lambanapu dan beberapa twmpat lainnya. Ibu Graham saat ini juga sedang menanam lombok,bengkoang dan beberapa sayur lainnya di lahan kecil mereka di kos sekitar tandairotu.
| Pak Graham dan Polibag Daun Pisang |
| Pak Graham dan Ibu di Kebun Bibit KWT Kawara Pandulang - Kalu - Sumba Timur |
| Ibu Graham diskusi dengan Angota Kelompok KWT Kawara Pandulang di kebun Bibit |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar